Pages

Kamis, 12 Mei 2016

GEGER MENJANGAN PURWOREJO



   Taman Geger Menjangan terletak di sisi utara kota sekitar 1 Km dari kota Purworejo.konon, hamparan bukit ini jika dilihat dari kejauhan tampak seperti punggung seekor menjangan, maka dari itu, masyarakat lebih mengenalnya dengan Geger (Indonesia: punggung) Menjangan. luas dari tempat wisata ini sekitar 12,75 Ha, serta ketinggian sekitar 125 – 200 mdpl.bagi anda yang ingin kesini pasti suka, karena Taman Geger Menjangan ini merupakan kawasan pegunungan dan termasuk barisan bukit menoreh. 

   Dari puncak bukit ini kita bisa memandang lepas kota Purworejo, bahkan jauh ke selatan, pantai selatan. Perjalanan dari pintu masuk obyek hingga puncak bukit memang cukup mengasyikkan. Anda akan ditantang untuk membuktikan kekuatan fisik anda, kita akan menaiki bukit yang tingginya sekitar 175 m di atas permukaan laut. Setelah sampai di puncak, wisatawan akan menemukan sebuah bangunan berukuran 6 x 10 meter, itulah gardu pemandangan yang sengaja dibangun untuk menikmati keindahan Kota Purworejo dan Pantai Selatan. Selain itu, kawasan Geger Menjangan masih menawarkan beberapa obyek rekreasi lainnya, yaitu taman permainan anak dan kolam renang. Kolam renang terletak di pintu masuk kawasan. Untuk mencapai ke sana bisa naik angkutan jurusan Kalibata, jalan yang arah ke Magelang, dekat dengan pusat kota kabupaten.

   Daya tarik dari Bukit Geger Menjangan ini bukan karena keindahan alamnya saja akan tetapi juga sebagai wisata ziarah yang cukup ramai dikunjungi para peziarah terutama saat menjelang bulan Ramadhan tiba, karena di lokasi bukit terdapat sebuah makam tua yakni makan Kyai Imam Puro.

  Kyai Imam Puro ini konon merupakan salah satu tokoh yang besar yang mempunyai andil dalam sejarah keberadaan Kabupaten Purworejo, tak jauh dari makam tua ini terdapat sebuah sumur tiban yang dipercayai oleh masyarakat sekitar memiliki air ajaib dan airnya tidak kering walau di musim kemarau. 


    Untuk mencapai puncak Geger Menjangan ini kita bisa menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya memakai kendaraan roda dua karena jalanan berupa jalan cor semen yang cukup sempit, setelah samapi di lokasi makam Kyai Imam Puro kita bisa memarkirkan kendaraan di sini. Perjalanan selanjutnya kita harus berjalan kaki menapaki jalan setapak tepatnya ratusan anak tangga dengan semak dan rumput ilalang di kanan kiri jalan memberi sensasi tersendiri dalam perjalanan.
    

    Setelah melewati ratusan anak tangga kita akan menjumpai sebuah gardu pandang dengan antena sebuah pemancar radio disisinya, segala lelah letih perjalan kita akan terbayar lunas di atas bukit ini dengan pemandangan alam yang indah serta semilir angin pegunungan yang sejuk. Namun sedikit disayangkan keadaan di sekitar gardu pandang ini cukup memprihatinkan karena banyak sampah dari para pengunjung yang berserakan dan berbagai fasilitas yang kurang terawat.

Sumber:http://cppmbener.blogspot.co.id/2015/11/geger-menjangan-purworejo.html

 Goa Seplawan

Keindahan goa seplawan dengan panjang lebih dari 750 meter ini wajib anda selusuri. Berada di ketinggian sekitar 900 mdpl pegunungan menoreh selain menawarkan keindahan pesona alam bawah tanah juga pemandangan alam pegunungan sejuk nan indah.
Jika berencana berwisata ke Yogyakarta dan mencari alternatif tempat wisata yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, maka datanglah di wisata alam pegunungan menoreh tepatnya di kawasan wisata Goa Seplawan di Desa Donorejo. Berada di ketinggian sekitar 900an mdpl menjadikan tempat ini begitu sejuk.

Keindahan Goa Seplawan

goa_seplawan2
Goa seplawan terletak di pegunungan menoreh yang membentang dari kecamatan Bagelen Purworrejo hingga kabupaten Magelang. Dan goa seplawan masuk wilayah kabupaten Purworejo Jawa Tengah dan di sebelah timur berbatasan langsung dengan kabupaten Kulonprogo Yogyakarta.Lokasi Goa Seplawan Tepatnya berada di desa Donorejo kecamatan Kaligesing Purworejo Jawa Tengah.
Memasuki kawasan wisata Goa Seplawan, hawa sejuk begitu terasa disini.  Lokasi goa seplawan berada tak jauh dari area parkir, pengunjung cukup berjalan beberapa meter saja. Sebelum memasuki goa seplawan, pengunjung akan disuguhi patung besar replika arca emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Dulu, Sekitar tahun 1979 bersamaan ditemukannya goa Seplawan kala itu ditemukan pula patung emas dan berdasarkan identifikasi ahli sejarah waktu itu merupakan patung Dewa Siwa dan Parwati. Saat ini patung tersebut disimpan di museum Nasional Jakarta dan sebagai tanda ditemukan benda bersejarah maka dibuat patung replika. Dengan ditemukannya patung tersebut menandakan bahwa goa seplawan mempunyai nilai sejarah yang tinggi.
Patung-Siwa-dan-parwati-di-seplawan
Untuk Selusur goa seplawan bisa dilakukan oleh siapa saja karena sangat aman dan mudah tanpa peralatan khusus. Di dalam goa sudah tersedia lampu penerangan yang menerangi sepanjang jalur wisata goa seplawan.  Untuk menuju mulut goa harus melewati jalan paving yang melingkar dan menurun. Untuk menuju goa pengunjung harus menuruni tangga yang tersedia. Berada di mulut goa anda sudah merasakan keajaiban alam berupa stalaktit dan stalakmit yang beraneka ragam nan indah.
Berjalan beberapa meter pengunjung akan mendapati sebuah kolam dengan airnya yang jernih. Perjalanan tidak berhenti disini, karena ini baru awal. Untuk melanjutkan selusur goa seplawan, pengunjung harus naik tangga kecil dan masuk lorong goa yang bisa dilalui  satu orang saja. Namun setelah melewati lorong tersebut, pengunjung akan melihat keindahan goa seplawan. Pengunjung akan terkagum-kagum karena ternyata goa seplawan memiliki diameter yang besar dan memanjang sepanjang lebih dari 700 meter.
Goa seplawan ini memiliki jalur buntu, karena tidak ada tembusan ke titik tertentu. Jadi untuk keluar goa harus jalan balik dan keluar melalui pintu masuk. Goa ini memiliki cabang-cabang yang banyak, dan cabang-cabang tersebut tidak disediakan lampu penerangan karena beberapa jalur tersebut berupa goa vertikal dan ada juga yang berlumpur sehingga sering disebut istana lumpur. Untuk memasuki cabang goa tersebut harus membawa alat penerangan sendiri dan harus dengan pemandu.

Pemandangan Alam Yang Mempesona

goa_seplawan3
Selain keindahan goa alam sendiri, pemandangan alam di kawasan juga sangat indah. Anda bisa melihat kota Jogja dari gardu pandang goa seplawan. Dari gardu Pandang bisa juga melihat waduk Sermo yang terletak di Kulonprogo. Bahkan jika naik kepuncak sisi kanan dari gardu Pandang, jika cuaca cerah  bisa menyaksikan 5 gunung sekaligus yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Jam Buka Dan Harga Tiket Masuk

Pengunjung bisa datang kapan saja di goa ini. Untuk jam buka goa seplawan sendiri mulai dari jam 08.00 pagi hingga pukul 17.00.  Goa seplawan biasanya ramai dikunjungi di hari sabtu atau minggu ataupun hari llibur atau musim liburan. Untuk tarif tiket masuk Goa Seplawan sangat murah yaitu sekitar Rp.3.000 rupiah dan tarif parkir Rp. 2000 . Sangat murah bukan?

 Lokasi Dan Rute Menuju Goa Seplawan

Goa Seplawan terletak di Desa Donorejo kecamatan Kaligesing Purworejo berbatasan langsung dengan kabupaten Kulonprogo. Bila pengunjung dari arah kota Yogyakarta maka bisa mengambil rute ke arah Samigaluh melalui jalan Godean. Kemudian lurus ke arah Goa Kiskendo. Setelah sampai goa Kiskendo lihat papan petunjuk arah menuju Goa Seplawan / Purworejo. Maka anda cukup mengikuti jalan tersebut dan anda akan sampai di Goa Seplawan. Fasilitas goa seplawan sudah lumayan lengkap mulai dari area parkir, kamar mandi dan WC, Mushola dan tersedia warung-warung sehingga jika lapar setelah selusur goa bisa memesan makanan sembari menikmati keindahan dan kesejukan kawasan goa seplawan.

Sumber:http://www.njogja.co.id/wisata-alam/goa-seplawan-keindahan-panorama-bawah-tanah-di-pegunungan-menoreh/

Selasa, 10 Mei 2016

Daun Sirih untuk Obat Keputihan

Daun sirih sudah dipercaya turun temurun sebagai pengobatan herbal yang mujarab.Terutama untuk mengobati gangguan umum pada wanita, yaitu Daun Sirih untuk Obat keputihan Alami.
Kenapa Daun sirih bisa mengatasi keputihan?...Daun sirih di ketahui mempunyai kandungan seperti Minyak atsiri, minyak terbang (betIephenol), seskuiterpen, pati, diatase, gula.Zat samak dan kavikol pada daun sirih juga memiliki daya mematikan kuman/antiseptik dan anti jamur.

Karena mengandung zat yang kaya khasiat obat yang cukup lengkap tersebut itulah , menjadikan daun sirih menjadi salah satu tumbuhan herbal yang paling di dimanfaatkan.
Contoh kecil, pada umumnya sabun kebersihan khusus yang dipakai wanita selalu memiliki kandungan daun sirih sebagai bahan aktiv pembunuh kuman.

Daun Sirih untuk Obat keputihan AlamiKhasiat daun sirih dalam menyembuhkan keputihan pernah diuji secara klinis. Ini diungkapkan oleh Amir Syarif dari Bagian Farmakologi Universitas Indonesia. Ia mengatakan bahwa daun sirih punya khasiat yang lebih bermakna dibandingkan dengan plasebo. Pengujian melibatkan 40 pasien penderita keputihan yang tidak sedang hamil, menderita diabetes melitus, ataupun penyakit hati dan ginjal. Dua puluh di antaranya mendapatkan daun sirih, sedang sisanya diberi plasebo. Baik daun sirih maupun plasebo itu diberikan pada vagina sebelum pasien tidur selama tujuh hari. Dari 40 pasien tersebut, 22 orang mendapat pemeriksaan ulang, masing-masing 11 mendapat plasebo dan daun sirih. Hasil pengujian ini membuktikan sekitar 90,9 persen pasien yang mendapat daun sirih dinyatakan sembuh, sedangkan pada kelompok yang diberi plasebo hanya 54,5 persen saja.
Penelitian lain tentang manfaat sirih dilakukan di IPB Bogor. Ir. Nuri Andarwulan, Msi dan kawan-kawan dari Fakultas Teknologi Pertanian IPB melakukan penelitian untuk memanfaatkan limbah minyak asiri daun sirih untuk memproduksi zat antioksidan.

Dan anda pun sebenarnya bisa langsung mempergunakan daun sirih untuk pengobatan keputihan secara alami, seperti yang dilakukan oleh nenek moyang dahulu.
Mengobati keputihan secara alami dipercaya dapat menghilangkan infeksi karena jamur dan bakteri yang menjadi penyebab keputihan karena sifat antiseptik dun sirih.

Berikut adalah cara menggunakan daun sirih untuk mengobati keputihan secara alami:

- 15 lembar daun sirih dicuci dan direbus dengan 2 liter air hingga mendidih
- Saat air masih hangat gunakan untuk mencuci vagina.
- Lakukan beberapa kali sehari hingga keputihan membaik.

Selain daun sirih, alternatif obat keputihan alami yang lain adalah campuran beberapa bahan berikut:
- 15 gram kulit delima kering + 10 gram sambiloto kering + 20 gram kunyit (diiris-iris).
- Semua bahan dicuci bersih lalu direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc, disaring.
- Minum airnya 2 kali sehari untuk mengobati keputihan Anda.

Masih banyak khasiat lain dari daun sirih untuk pengobatan, yaitu mengatasi bau badan dan mulut, sariawan, mimisan, gatal-gatal dan koreng.Bahkan daun sirih juga dipercaya dapat meningkatkan gairah seksual.

Sumber:http://zona-1000.blogspot.co.id/2012/10/kumpulan-artikel-kesehatan.html
Asal Usul Kota Purworejo

Pada jaman dulu, hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah bagian selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling merupakan wilayah Kerajaan Galuh. Oleh karena itu, menurut Profesor Purbocaraka wilayah itu disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa dapat diartikan sebagai Pagalihan. Dari nama Pagalihan ini lama kelamaan berubah menjadi Pagelen, dan terakhir menjadi Bagelen hingga sekarang. Di kawasan tersebut mengalir sungai besar yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama Watukuro sampai sekarang masih ada dan menjadi nama sebuah desa yang terletak dekat muara pantai Congot (Kulon Progo, Yogyakarta). Desa Watukuro sendiri masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Dulu, di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakat hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dibidang pertanian dan memiliki kebudayaan yang tinggi.
Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Margasira, bertepatan dengan Siva (5 Oktober 901 Masehi), terjadilah suatu peristiwa penting yaitu pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai Prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.
Prasasti yang ditemukan dibawah pohon Sono di dusun Boro Tengah tersebut (sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan, Kecamatan Banyuurip) disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 sejak tahun 1890. Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro.
Dalam Prasasti Boro Tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga kuat adalah Rakryan Mahamantri / Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari naik tahta sebagai raja pengganti iparnya tersebut.
Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan.
Prasasti Kayu Ara Hiwang
Pematokan tersebut sebagai tanda bahwa desa Kayu Ara Hiwang telah dijadikan Tanah Perdikan (Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan” atau para Hyang berada. Dalam peristiwa tersebut juga dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang.
“ … Tatkala Rake Wanua Poh Dyah Sala Wka sang Ratu Bajra anak wanua I Pariwutan sumusuk ikanang wanua I Kayu Ara Hiwang watak Watu Tihang …”
Wilayah yang dijadikan tanah perdikan juga meliputi segala sesuatu yang dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang, antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika), guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga).
Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut diduga jika guha yang dimaksud adalah Goa Seplawan, karena di dekat mulut goa Seplawan memang terdapat bangunan suci yaitu Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoni-nya diangkat. Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai “parahyangan” seperti yang tertulis dalam prasasti Kayu Ara Hiwang.
Upacara 5 Oktober 901 Masehi di Boro Tengah dihadiri sekitar 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (Kalongan, Loano). Kepada para pejabat yang hadir diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji patra sisi, emas dan perak. Peristiwa yang terjadi pada 5 Otober 901 Masehi tersebut akhirnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Purworejo melalui sidang DPRD Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris.
Perlu diketahui bahwa sejak jaman dahulu wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen, kawasan yang sangat disegani oleh wilayah lain. Saat itu sejarah mencatat sejumlah tokoh yang disegani, misalnya tokoh Sunan Geseng dalam pengembangan agama Islam di Jawa Tengah bagian selatan yang dikenal sebagai muballigh besar yang meng-Islam-kan wilayah dari timur sungai Lukola yang pada saat itu pengaruhnya sampai ke daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang. Dalam pembentukan kerajaan Mataram Islam, para Kenthol Bagelen adalah pasukan andalan dari Sutawijaya yang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati. Dalam sejarah tercatat bahwa Kenthol Bagelen sangat berperan dalam berbagai operasi militer sehingga nama Begelen sangat disegani.
Paska Perang Jawa, kawasan Kedu Selatan yang dikenal sebagai Tanah Bagelen dijadikan Karesidenan Bagelen dengan Ibukota di Purworejo, sebuah kota baru gabungan dari 2 kota kuno, yaitu Kedungkebo dan Brengkelan. Pada periode Karesidenan Begelen inilah muncul pula tokoh muballigh Kyai Imam Pura yang memiliki pengaruh hingga ke Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Kyai Sadrach, penginjil Kristen plopor Gereja Kristen Jawa (GKJ).
Dalam perjalanan sejarah, yaitu dalam bentrokan antara para bangsawan kerajaan Mataram, wilayah Mataram kemudian dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Hal ini terjadi akibat ikut campur tangannya pihak Belanda. Akibat Perjanjian Giyanti (13 pebruari 1755), Tanah Bagelen yang juga sebagai wilayah Negara Gung dibagi, sebagian masuk ke Surakarta dan sebagian lagi masuk ke Yogyakarta, namun pembagian ini tidak jelas batasnya sehingga oleh para ahli dinilai sangat rancu dan diumpamakan sebagai campur baur seperti “rujak”.
Pada Perang Diponegoro (abad ke XIX), wilayah Tanah Bagelen menjadi ajang pertempuran karena pada saat itu Pangeran Diponegoro mendapat dukungan luas dari masyarakat setempat. Pada Perang Diponegoro tersebut wilayah Bagelen dijadikan karesidenan dan masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda dengan ibukotanya Kota Purworejo. Wilayah karesidenan Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, antara lain kadipaten Semawung (Kutoarjo) dan Kadipaten Purworejo dipimpin oleh Bupati Pertama Raden Adipati Cokronegoro Pertama. Dalam perkembangannya, Kadipaten Semawung (Kutoarjo) kemudian digabung masuk wilayah Kadipaten Purworejo.
Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesidenan Bagelen dihapus dan digabungkan dengan karesidenan kedu. Kota Purworejo yang semula Ibu kota Karesidenan Bagelen, statusnya kemudian berubah menjadi Ibukota Kabupaten. Pada tahun 1936, Gubernur Jenderal Hindia belanda merubah administrasi pemerintah di Kedu Selatan, Kabupaten Karanganyar dan Ambal digabungkan menjadi satu dengan Kebumen dan menjadi Kabupaten Kebumen. Sedangkan Kabupaten Kutoarjo juga digabungkan dengan Purworejo, ditambah sejumlah wilayah yang dahulu masuk wilayah administrasi Kabupaten Urut Sewu / Ledok menjadi Kabupaten Purworejo. Sedangkan kabupaten Ledok yang semula bernama Urut Sewu menjadi Kabupaten Wonosobo.
Dalam perkembangan sejarahnya, Kabupaten Purworejo dikenal sebagai pelopor di bidang pendidikan dan juga sebagai wilayah yang menghasilkan tenaga kerja di bidang pendidikan, pertanian dan militer. Tokoh-tokoh yang muncul antara lain W.R. Supratman (komponis lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”), Jenderal Urip Sumoharjo, Jenderal Ahmad Yani, Sarwo Edy Wibowo dan sebagainya. Para tokoh maupun tenaga kerja di bidang pertanian pendidikan, militer, seniman dan pekerja lainnya oleh masyarakat luas di tanah air dikenal sebagai orang-orang Bagelen, nama kebangsaan dan yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri pada jamannya.
 Sumber:https://belovedhometown.wordpress.com/2011/07/10/asal-usul-purworejo/













Senin, 02 Mei 2016

Sejarah Purworejo

 Hamparan wilayah yang subur di Jawa Tengah Selatan antara Sungai Progo dan Cingcingguling sejak jaman dahulu kala merupakan kawasan yang dikenal sebagai wilayah yang masuk Kerajaan Galuh. Oleh karena itu menurut Profesor Purbocaraka, wilayah tersebut disebut sebagai wilayah Pagaluhan dan kalau diartikan dalam bahasa Jawa, dinamakan : Pagalihan. Dari nama “Pagalihan” ini lama-lama berubah menjadi : Pagelen dan terakhir menjadi Bagelen. Di kawasan tersebut mengalir sungai yang besar, yang waktu itu dikenal sebagai sungai Watukuro. Nama “ Watukuro “ sampai sekarang masih tersisa dan menjadi nama sebuah desa terletak di tepi sungai dekat muara, masuk dalam wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Di kawasan lembah sungai Watukuro masyarakatnya hidup makmur dengan mata pencaharian pokok dalam bidang pertanian yang maju dengan kebudayaan yang tinggi.
Pada bulan Asuji tahun Saka 823 hari ke 5, paro peteng, Vurukung, Senin Pahing (Wuku) Mrgasira, bersamaan dengan Siva, atau tanggal    5 Oktober 901 Masehi, terjadilah suatu peristiwa penting, pematokan Tanah Perdikan (Shima). Peristiwa ini dikukuhkan dengan sebuah prasasti batu andesit yang dikenal sebagai prasasti Boro Tengah atau Prasasti Kayu Ara Hiwang.
Prasasti yang ditemukan di bawah pohon Sono di dusun Boro tengah, sekarang masuk wilayah desa Boro Wetan Kecamatan Banyuurip dan sejak tahun 1890 disimpan di Museum Nasional Jakarta Inventaris D 78 Lokasi temuan tersebut terletak di tepi sungai Bogowonto, seberang Pom Bensin Boro.
Dalam Prasasti Boro tengah atau Kayu Ara Hiwang tersebut diungkapkan, bahwa pada tanggal 5 Oktober 901 Masehi, telah diadakan upacara besar yang dihadiri berbagai pejabat dari berbagai daerah, dan menyebut-nyebut nama seorang tokoh, yakni : Sang Ratu Bajra, yang diduga adalah Rakryan Mahamantri/Mapatih Hino Sri Daksottama Bahubajrapratipaksaya atau Daksa yang di identifikasi sebagai adik ipar Rakal Watukura Dyah Balitung dan dikemudian hari memang naik tahta sebagai raja pengganti iparnya itu.
Pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan.
Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan(Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan”. Atau para hyang berada.
Dalam peristiwa tersebut dilakukan pensucian segala sesuatu kejelekan yang ada di wilayah Kayu Ara Hiwang yang masuk dalam wilayah Watu Tihang.
“ … Tatkala Rake Wanua Poh Dyah Sala Wka sang Ratu Bajra anak wanua I Pariwutan sumusuk ikanang wanua I Kayu Ara Hiwang watak Watu Tihang …”
Wilayah yang dijadikan tanah perdikan tersebut juga meliputi segala sesuatu yang dimiliki oleh desa Kayu Ara Hiwang antara lain sawah, padang rumput, para petugas (Katika), guha, tanah garapan (Katagan), sawah tadah hujan (gaga).
Disebut-sebutnya “guha” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang tersebut ada dugaan, bahwa guha yang dimaksud adalah gua Seplawan, karena di dekat mulut gua Seplawan memang terdapat bangunan suci Candi Ganda Arum, candi yang berbau harum ketika yoninya diangkat. Sedangkan di dalam gua tersebut ditemukan pula sepasang arca emas dan perangkat upacara. Sehingga lokasi kompleks gua Seplawan di duga kuat adalah apa yang dimaksud sebagai “parahyangan” dalam prasasti Kayu Ara Hiwang.
Upacara 5 Oktober 901 M di Boro Tengah tersebut dihadiri sekurang-kurangnya 15 pejabat dari berbagai daerah, antara lain disebutkan nama-nama wilayah : Watu Tihang (Sala Tihang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mantyasih (Meteseh Magelang), Mdang, Pupur, Taji (Taji Prambanan) Pakambingan, Kalungan (kalongan, Loano).
Kepada para pejabat tersebut diserahkan pula pasek-pasek berupa kain batik ganja haji patra sisi, emas dan perak. Peristiwa 5 Otober 901 M tersebut akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1994 dalam sidang DPRD Kabupaten Purworejo dipilih dan ditetapkan untuk dijadikan Hari jadi Kabupaten Purworejo. Normatif, historis, politis dan budaya lokal dari norma yang ditetapkan oleh panitia, yakni antara lain berdasarkan pandangan Indonesia Sentris.
Perlu dicatat, bahwa sejak jaman dahulu wilayah Kabupaten Purworejo lebih dikenal sebagai wilayah Tanah Bagelen. Kawasan yang sangat disegani oleh wilayah lain, karena dalam sejarah mencatat sejumlah tokoh. Misalnya dalam pengembangan agama islam di Jawa Tengah Selatan, tokoh Sunan Geseng diknal sebagai muballigh besar yang meng-Islam-kan wilayah dari timur sungai Lukola dan pengaruhnya sampai ke daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupatn Magelang.
Dalam pembentukan kerajaan Mataram Islam, para Kenthol Bagelen adalah pasukan andalan dari Sutawijaya yang kemudian setelah bertahta bergelar Panembahan Senapati. Dalam sejarah tercatat bahwa Kenthol Bagelen sangat berperan dalam berbagai operasi militer sehingga nama Begelen sangat disegani.
Paska Perang Jawa, kawasan Kedu Selatan yang dikenal sebagai Tanah Bagelen dijadikn Karesidenan Bagelen dengan Ibukota di Purworejo, sebuah kota baru gabungan dari 2 kota kuno, Kedungkebo dan Brengkelan.
Pada periode Karesidenan Begelen ini, muncul pula tokoh muballigh Kyai Imam Pura yang punya pengaruh sampai ke Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Hampir bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Kyai Sadrach, penginjil Kristen plopor Gereja Kristen Jawa (GKJ).
Dalam perjalanan sejarah, akibat ikut campur tangannya pihak Belanda dalam bentrokan antara para bangsawan kerajaan Mataram, maka wilayah Mataram dipecah mejadi dua kerajaan. Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Tanah Bagelen akibat Perjanjian Giyanti 13 pebruari 1755 tersebut sebagai wilayah Negara Gung juga dibagi, sebagian masuk ke Surakarta dan sebagian lagi masuk ke Yogyakarta, namun pembagian ini tidak jelas batasnya sehingga oleh para ahli dinilai sangat rancu diupamakan sebagai campur baur seperti “rujak”.
Dalam Perang Diponegoro abad ke XIX, wilayah Tanah Bagelen menjadi ajang pertempuran karena pangeran Diponegoro mndapat dukungan luas dari masyarakat setempat. Pada Perang Diponegoro itu, wilayah Bagelen dijadikan karesidenan dan masuk dalam kekuasaan Hindia Belanda dengan ibukotanya Kota Purworejo. Wilayah karesidenan Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, antara lain kadipaten Semawung (Kutoarjo) dan Kadipaten Purworejo dipimpin oleh Bupati Pertama Raden Adipati Cokronegoro Pertama. Dalam perkembangannya, Kadipaten Semawung (Kutoarjo) kemudian digabung masuk wilayah Kadipaten Purworejo.
Dengan pertimbangan strategi jangka panjang, mulai 1 Agustus 1901, Karesienan Bagelen dihapus dan digabungkan pada karesidenan kedu. Kota Purworejo yang semula Ibu Kota Karesidenan Bagelen, statusnya menjadi Ibukota Kabupaten.
Tahun 1936, Gubernur Jenderal Hindia belanda merubah administrasi pemerintah di Kedu Selatan, Kabupaten Karanganyar dan Ambal digabungkan menjdi satu dengan kebumen dan menjadi Kabupaten kebumen. Sedangkan Kabupaten Kutoarjo juga digabungkan dengan Purworejo, ditambah sejumlah wilayah yang dahulu masuk administrasi Kabupaten Urut Sewu/Ledok menjadi Kabupaten Purworejo. Sedangkan kabupaten Ledok yang semula bernama Urut Sewu menjadi Kabupaten Wonosobo.
Dalam perkembangan sejarahnya Kabupaten Purworejo dikenal sebagai pelopor di bidang pendidikan dan dikenal sebagai wilayah yang menghasilkan tenaga kerja di bidang pendidikan, pertanian dan militer.
Tokoh-tokoh yang muncul antara lain WR Supratman Komponis lagu Kebangsaan “Indonesia raya”. Jenderal Urip Sumoharjo, Jenderal A. Yani, Sarwo Edy Wibowo dan sebagainya.
Para tokoh maupun tenaga kerja di bidang pertanian pendidikan, militer, seniman dan pekerja lainnya oleh masyarakat luas di tanah air dikenal sebagai orang-orang Bagelen, nama kebangsaan dan yang disegani baik di dalam maupun di luar negeri.

(Sumber: Buku POTENSI WISATA PURWOREJO – Yayasan Arahiwang Purworejo Jakarta).
 sumber:http://www.purworejokab.go.id/profil-daerah/sejarah

Kamis, 07 April 2016

Al Qur’an dan Penyakit Maag

Oleh Dr Ahmad Zain An Najah
 
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (32
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS. Abasa: 24-32)
PANJIMAS.COM – Allah Subhanahu wata’ala dalam ayat di atas memerintahkan setiap manusia untuk melihat apa yang dia makan, apa yang masuk ke dalam perutnya. Perintah tersebut mengandung beberapa hikmah:
Pertama: Agar manusia berfikir tentang kebesaran Allah SWT yang telah menyediakan makanan untuk keperluan hidup manusia. Berkata Imam Qurtubi dalam tafsirnya (20/143): “Maka hendaknya manusia melihat bagaimana Allah menciptakan makanan untuk manusia, yaitu makanan yang merupakan kebutuhan pokok hidupnya, bagaimana Allah menyediakan baginya sarana kehidupan, hal ini agar dia mempersiapkan diri untuk kehidupan di akherat.”
Makanan yang tersedia tidak begitu saja terwujud dalam keadaan siap saji, tetapi memerlukan proses yang begitu panjang, dimulai dari turunnya hujan, dari air hujan tersebut, maka tanah-tanah menjadi subur, dan darinya tumbuh tumbuhan hidup dan berkembang sehingga berbuah, dan buah tersebut bisa dimakan manusia. Begitu juga bagian-bagian lain dari tumbuh-tumbuhan tersebut bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia.
Kedua: ketika memerintahkan setiap manusia untuk melihat apa yang dimakan, Allah SWT menyebutkan beberapa nama makanan yang sebenarnya sangat bagus untuk keberlangsungan kehidupan manusia itu sendiri, seperti biji-bijian, sayur-sayuran, zaitun, kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buah-buahan.
Ketiga: perintah untuk memperhatikan makanan, adalah perintah untuk berhati-hati memilih makanan, agar kita tidak sembarangan mengkonsumsi makanan yang membahayakan kesehatan kita. Diantara makanan-makanan yang bisa memicu terjadi penyakit maag adalah makan-makanan yang mengandung lemak, seperti coklat, gorengan, minuman bersoda, minuman yang beralkohol, produk olahan susu yang tinggi lemak, daging tinggi lemak, kafein yang terdapat dalam kopi. Begitu juga makanan terlalu pedas dan lain-lainnya. Orang yang sembarangan makan tanpa melihat dan meneliti makanan tersebut, berarti tidak mengamalkan ayat di atas, oleh karenanya dia sangat rentan terkena penyakit maag.
Keempat: perintah untuk memperhatikan makanan, juga berarti perintah untuk memperhatikan kapan seharusnya orang itu harus makan. Makan yang menyehatkan tubuh kita, adalah makan terartur akan memicu munculnya penyakit maag. Begitu juga terlambat makan atau makan tergesa-gesa dan terlalu cepat, juga memicu penyakit maag.
Kelima: perintah untuk melihat makanan, juga perintah agar makanan yang kita makan tidak berlebihan, sebagaimana firman Allah SWT:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (31
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al A’raf: 31)
Maha Benar Allah, ternyata dalam penelitian ditemukan bahhwa makan dalam porsi yang banyak dan berlebihan memicu munculnya penyakit maag. Bahakan jika maag sudah sangat parah, akan sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.
Keenam: Pikiran dan Emosi Pemicu Penyakit Maag
Jauh-jauh sebelumnya Allah telah memberikan petunjuk kepada umat Islam di dalam firman-nya agar seorang muslim tidak stress dan tekanan batinnya dalam keadaan apapun juga.
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.” (Qs. Yunus: 62-63)
Tekanan batin dan kecemasan serta kesedihan akan menyebabkan kadar asam lambung meningkat tajam dan ini berujung pada maag dan perih pada lambung. Begitu juga, ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan, serta perasaan negatif -khususnya saat makan- akan merangsang sistem syaraf simpatik yang mengakibatkan berkurangnya enzim-enzim pangkreas, sehingga menciptakan kesulitan di dalam pencernaan makanan. Ini semua berakibat perut kembung, munculnya gas, menyebabkan penyakit ulu hati, dan masalah dalampencernaan lainnya. Selain itu, juga akan mengakibatkan peningkatan korsitol yang akan menekan kekebalan tubuh, selanjutnya berakibat pada terbentuknya sel kanker.
Stress juga bisa memicu seseorang untuk mengkonsumsi obat penenang atau merokok atau minuman-minuman beralkohol, itu semua akan menyebabkan tukak lambung terganggu.
Di sisi lain Allah menjelaskan bahwa sifat orang bertaqwa adalah mampu menahan kemarahannya yang sedang berkecamuk di dalam dirinya. Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Qs. Ali Imran: 133-134)
Kemarahan konon dapat menyebabkan rheumatoid ar-thritis, serangan jantung, kanker, tekanan darah tinggi, stroke, serta tukak lambung. Ketika seseorang sangat marah, tekanan darahnya akan meningkat tajam, maka resiko serangan jantung dan stroke akan menjadi lebih tinggi. Begitu juga kadar asam lambung yang meningkat juga memberi efek ketegangan yang berujung sakit pada tukak lambung.
Orang yang tidak mampu mengendalikan amarah dan emosinya, apalagi kalau emosi itu berujung kepada kebencian dan permusuhan, maka akan mengakibatkan adrenalin dan tekanan darah meningkat, maka resiko terkena penyakit jantung menjadi tinggi.
Mudah-mudahan kita bisa lebih memperhatikan setiap makanan yang akan kita masukan ke dalam tubuh kita, sekaligus bisa selalu berfikir positif, serta menjauhi dari rasa dendam, kebencian dan amarah kepada orang lain. Wallahu A’lam. [Miftahul Jannah]


Sumber:http://panjimas.com/ragam/2015/05/08/ini-solusi-al-quran-bagi-penderita-penyakit-maag/

Rabu, 23 Maret 2016

Pink Beach- Berwisata ke sebuah pantai yang memiliki pasir putih, mungkin sudah biasa. Namun pernahkah terbayangkan di fikiran sobat ada sebuah pantai yang memiliki pasir yang berwarna merah muda atau pink. Mungkin sobat tidak pernah mengira, namun pantai ini benar-benar ada dan juga berada di Indonesia. Pink Beach itulah sebutan untuk sebuah pantai yang terletak di Taman Nasional Komodo, NTT. Menariknya lagi pink beach di Pulau Komodo ini merupakan satu dari 7 pantai di Dunia yang memiliki pasir berwarna pink.
Pink Beach Pulau Komodo, Satu Dari 7 Pantai Pasir Pink Di Dunia
Pink Beach Pulau Komodo
Selain Pink Beach di pulau komodo, masih ada 6 pantai yang memiliki pasir berwarna pink yang tersebar di penjuru Dunia. Pantai-pantai tersebut diantaranya Pink Beach di Harbor island Bananas, Pink Beach di Santa Cruz Island Filipina, Pink Beach Bermuda, Budelli Island di Italy, Bonaire di Dutch Caribbean Island, dan Balos Lagoon di Yunani. Aktifitas Diving maupun Snorkelling merupakan pilihan yang tepat ketika sobat datang ke Pink Beach di Pulau komodo. Pasalnya selain memiliki pantai yang cantik nan jelita, kehidupan bawah lautnya pun tak kalah menarik untuk di eksplore. 
Pink Beach merupakan sebutan dari wisatawan asing untuk pantai yang berada di pulau yang juga masuk dalam nominasi 7 keajaiban dunia. Bagi masyarakat lokal pantai ini dikenal dengan sebutan Pantai Merah. Warna pink tersebut kian apik terlihat tatkala tersapu oleh ombak. Hingga kini belum diketahui secara pasti mengenai asal muasal pasir pink ini. Namun ada sebuah anggapan bahwa warna pink ini berasal dari pecahan batu karang dan adanya hewan bernama foraminifera yang memproduksi warna pink. Saat datang ke pantai ini pastikan sobat membawa peralatan diving atau snorkeling. Aneka ragam hayati seperti ribuan jenis ikan, terumbu karang, dan lainya akan menjadi tontonan yang tak terlupakan. Sobat bisa memanjakan mata hanya dengan bersnorkeling di bibir pantai. Nah untuk mendapatkan peralatan diving dan snorkeling sobat bisa mendapatkanya di Labuhan Bajo. Selain dua aktivitas tersebut, sobat bisa berkeliling menikmati keindahan alam yang masih asri. Dari pantai terlihat bukit yang memanajang dan mengitari pink beach.
Pink Beach Pulau Komodo
ilustrasi snorkeling di Pink Beach Pulau Komodo
Yang perlu diperhatikan adalah kawasan pink beach ini juga merupakan habitat komodo, untuk itu berhati-hatilah. Akan lebih aman lagi jika sobat menggunakan jasa pemandu yang sudah berpengalaman. Tidak terdapat warung atau took disekitar pink beach ini, untuk itu bawalah bekal secukupnya terutama pakaian ganti, makanan dan obat-obatan. Untuk mengunjungi pantai yang tak berpenghuni ini, sobat bisa menggunakan kapal dari Labuah Bajo. Biasanya wisatawan yang datang kesini tergabung dalam paket kunjungan ke Taman Nasional Komodo.
 
 
 
Sumber:http://www.sobatpetualang.com/2014/04/pink-beach-pulau-komodo-1dari7-pantai-pink-didunia.html